Studi Alkitab

Drop The Stone:
Menghakimi vs Mengasihi

Yohanes 8:1-11 20 Menit Baca

Pernahkah kamu merasa sangat "benar" dan melihat orang lain sangat "salah"? Rasanya gatal ingin berkomentar, menyindir, atau menghukum mereka. Inilah yang terjadi pada para ahli Taurat saat mereka menyeret seorang wanita yang tertangkap basah berzinah ke hadapan Yesus.

I. Konteks: Jebakan Maut (The Trap)

Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Ini bukan sekadar penegakan hukum, ini adalah jebakan politik untuk Yesus. Ahli Taurat dan orang Farisi membawa wanita itu bukan karena mereka peduli pada kesucian, tapi untuk menjebak Yesus.

Dilema Skakmat:
  • Jika Yesus berkata "LEMPARI DIA": Yesus akan melanggar Hukum Romawi (yang melarang orang Yahudi melakukan eksekusi mati tanpa izin Roma). Dia akan ditangkap sebagai pemberontak. Selain itu, Dia akan kehilangan reputasi-Nya sebagai "Sahabat orang berdosa".
  • Jika Yesus berkata "LEPASKAN DIA": Yesus akan dituduh melanggar Hukum Musa (Imamat 20:10) yang memerintahkan hukuman mati bagi pezinah. Dia akan dianggap nabi palsu.

Mereka menggunakan wanita itu sebagai umpan (objek) untuk menghancurkan Yesus. Seringkali, saat kita menghakimi orang lain, kita juga menjadikan orang itu objek untuk membuktikan "kesucian" diri kita sendiri.

II. Respon Yesus: Menulis di Tanah

Yesus tidak panik. Dia membungkuk dan menulis di tanah dengan jari-Nya. Alkitab tidak mencatat apa yang ditulis-Nya, tetapi banyak penafsir Alkitab (seperti St. Jerome) menduga Yesus menuliskan daftar dosa para penuduh itu.

Mungkin Dia menulis: "Pencuri", "Pembohong", "Pezinah Hati", "Munafik"...

Tindakan ini memaksa mereka untuk berhenti melihat wanita itu, dan mulai melihat diri mereka sendiri. Keheningan itu mengubah suasana dari "Pengadilan Massa" menjadi "Refleksi Pribadi".

III. Tantangan: "Barangsiapa Tidak Berdosa..."

Ayat 7

"Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu."

Ini adalah kalimat yang mematikan kesombongan. Yesus tidak berkata wanita itu tidak bersalah. Yesus tidak membatalkan Hukum Musa. Tapi Yesus menetapkan standar baru: Hanya Hakim yang Sempurna yang boleh menjalankan hukuman.

Satu per satu mereka pergi, mulai dari yang tertua (yang mungkin sadar dosanya paling banyak). Akhirnya, hanya tinggal Yesus dan wanita itu.

IV. Kasih Karunia & Kebenaran

Apakah Yesus membenarkan perzinahan? TIDAK. Perhatikan kalimat terakhir-Nya:

  • "Aku pun tidak menghukum engkau."
    (Ini adalah KASIH KARUNIA / Grace).
  • "Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang."
    (Ini adalah KEBENARAN / Truth).

Kasih karunia bukan izin untuk terus berdosa. Kasih karunia adalah kesempatan kedua untuk berubah. Yesus menyelamatkan nyawanya agar dia bisa mengubah hidupnya.

Pelajaran untuk Kita (Siswa Pradita)

1.
Jangan Jadi "Online Judges"

Di asrama atau medsos, mudah sekali ikut-ikutan menghujat teman yang buat salah. Sebelum mengetik komentar pedas atau menyebar gosip, tanya dirimu: "Apakah aku tanpa dosa?"

2.
Drop the Stone (Letakkan Batunya)

Jika kamu sedang memegang dendam atau keinginan untuk menjatuhkan orang lain, lepaskan itu. Kamu bukan Tuhan. Tugasmu mengasihi, bukan menghukum.

3.
Kesempatan Kedua

Jika kamu pernah melakukan kesalahan besar dan merasa "habis", ingatlah kisah ini. Yesus tidak mau menghukummu. Dia mau kamu bangkit dan "jangan berbuat dosa lagi".