Subjudul
Mengingat Pengorbanan, Merayakan Keselamatan
Disusun oleh: Simon Sarbunan, M.Si Teol
Guru Agama Kristen SMA Pradita Dirgantara
"Perjamuan Kudus itu cuma 'snack' pertengahan ibadah biar nggak lapar."
"Ini adalah momen tersuci di mana kita duduk semeja dengan Tuhan untuk mengingat harga yang Dia bayar demi nyawa kita."
(Keluaran 12)
Bangsa Israel makan domba dan roti tidak beragi pada malam sebelum keluar dari Mesir. Darah domba dioleskan di pintu agar malaikat maut "melewati" (Pass-over) rumah mereka.
Yesus adalah Anak Domba Allah yang sejati. Perjamuan Terakhir (Last Supper) adalah penggenapan Paskah. Darah-Nya bukan lagi di pintu kayu, tapi di kayu salib untuk menebus dosa kita.
"Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu."
Melambangkan tubuh Yesus yang dipecah-pecahkan, disiksa, dan dihancurkan di kayu salib agar kita utuh.
"Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku."
Melambangkan darah Yesus yang tertumpah untuk pengampunan dosa dan meterai perjanjian baru.
Substansi roti & anggur berubah menjadi Tubuh & Darah Kristus yang nyata, meski rupa fisiknya tetap sama.
Menghadirkan kembali pengorbanan Yesus di Kalvari secara misterius dan nyata (bukan pengulangan, tapi aktualisasi).
Kristus hadir secara Spiritual, roti hanya sebagai Simbol (Zwingli), atau hadir bersama elemen (Luther: Sakramen Konsubstansiasi). Namun, intinya adalah simbolik atau spiritual, bukan perubahan substansi.
Mengenang kurban yang sudah selesai di kayu salib. Perjamuan adalah peringatan dan penguatan iman.
"Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku." (Luk 22:19). Agar kita tidak lupa harga mahal keselamatan.
"Kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang." (1 Kor 11:26). Ini adalah khotbah visual.
"Karena roti adalah satu, maka kita... adalah satu tubuh." (1 Kor 10:17). Momen persaudaraan.
"Barangsiapa makan roti atau minum cawan Tuhan dengan cara yang tidak layak, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan."
Andi baru saja bertengkar hebat dengan Budi di sekolah. Dia sangat marah dan belum mau memaafkan Budi. Hari Minggu itu ada Perjamuan Kudus. Andi bingung:
"Kalau aku ikut, aku munafik. Kalau aku nggak ikut, nanti ditanya mama papa atau teman-teman."
Di meja perjamuan, tidak ada orang kaya atau miskin, jenderal atau kopral, pintar atau bodoh. Semua sama-sama orang berdosa yang butuh kasih karunia.
Perjamuan Kudus seharusnya membuat kita lebih peka untuk berbagi dengan sesama.
"Bagaimana kita bisa berbagi Roti Sorgawi (Yesus) di meja perjamuan, tapi pelit berbagi roti jasmani kepada teman yang kelaparan?"
Di banyak gereja (seperti GKJ/GKI), Perjamuan Kudus diikuti setelah Sidi (Pengakuan Percaya).
"Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang."