Subjudul
Pluralisme, Menjadi Garam & Terang, dan Etika Digital
Disusun oleh: Simon Sarbunan, M.Si Teol
Guru Agama Kristen SMA Pradita Dirgantara
Kita hidup di negara dengan ribuan suku, bahasa, dan berbagai agama. Keberagaman ini adalah anugerah Tuhan, bukan masalah.
"Bhinneka Tunggal Ika"
Menerima dan menghargai orang lain tanpa kehilangan identitas iman sendiri.
Bekerja sama dalam hal sosial kemasyarakatan (gotong royong) dengan siapa saja.
Tidak menutup diri atau merasa paling benar sendiri dalam konteks sosial.
"Kamu adalah garam dunia... Kamu adalah terang dunia... Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga."
— Matius 5:13-16
Mencegah Kebusukan & Memberi Rasa.
Menyinari Kegelapan & Memberi Petunjuk.
Media sosial adalah "alun-alun kota" modern. Bagaimana kita hidup sebagai Kristen di sana?
"Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar... pikirkanlah semuanya itu."
Sebelum posting/komen, tanya: Apakah ini Benar? Mulia? Adil? Manis?
Saring sebelum sharing. Jangan menyebarkan Hoax. Verifikasi informasi sebelum membagikan.
Gunakan jarimu untuk memberkati, bukan membully. Komentar yang membangun, bukan menjatuhkan.
Tampil apa adanya (otentik). Tidak pencitraan palsu demi 'likes'. Menghargai hak cipta orang lain.
Di grup WA angkatan, ada teman yang mengirim pesan yang menghina agama/suku lain. Beberapa orang tertawa.
Apa yang kamu lakukan sebagai 'Garam'?
Ada berita viral tentang skandal artis, tapi sumbernya belum jelas. Teman-temanmu ramai-ramai membagikannya.
Bagaimana menerapkan nilai 'Kebenaran'?
Sapa atau bantu satu orang yang berbeda suku/agama denganmu.
Posting satu konten positif (ayat/quote) di Story medsosmu yang memberkati orang lain.
Unfollow akun-akun yang toxic atau membuatmu iri hati/marah.
"Hendaklah terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga."